
Dream Cheaser
“Don’t Dis My Ability”
Pada Sabtu, 21 September 2016, BEM Fakultas Psikologi mengadakan sebuah seminar dengan tema yang sangat inspiratif, yaitu pendidikan karir untuk kaum disable atau berkebutuhan khusus.Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian acara 2nd Annual Psychology Summit yang tahun ini mengangkat tema Disabilitas. Bertempat di Auditorium Gedung H Fakultas Psikologi, seminar ini menghadirkan pembicara yaitu Dr. Wahyu Indianti, M.Si, Marshanda, dan Panji Surya Putra Sahetapi. Seminar dimulai sekitar pukul 09.30 WIB dengan dipandu oleh seorang moderator yaitu Ni Putu Putri Puspaningrum atau akrab dipanggil Putri.
Sesi pertama dari seminar tersebut dibuka dengan pemberian materi oleh Dr. Wahyu Indianti, M.Si atau akrab disebut Bu Iin. Beliau merupakan dosen di Fakultas Psikologi. Beliau menerangkan seputar pengertian karir, perkembangan karir, peran lingkungan dan peran orangtua dalam membentuk karir anak dengan disabilitas. Menurutnya, peran lingkungan dan orangtua sangat penting untuk tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus. Lingkungan yang ideal untuk membesarkan anak adalah lingkungan yang memiliki keterikatan melalui perasaan membutuhkan, dibutuhkan, dan memiliki. Selain itu lingkungan juga harus aman, bersikap kompromi contohnya seperti pemberian fasilitas dan perhatian khusus, mampu membangun optimism dan spiritualitas, dll. Sedangkan peran orangtua yang tak kalah penting adalah orangtua harus mampu membentuk identitas yang positif, mampu membimbing anak untuk mandiri, dan menemukan minat dan bakat anak sehingga anak berkebutuhan khusus bisa mandiri secara ekonomi nantinya.
Setelah sesi pertama berakhir, acara dilanjutkan dengan penampilan seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang memiliki keterbatasan penglihatan, namun ia sangat mahir memainkan piano dan juga memiliki suara yang merdu. Dia adalah Zizi. Zizi mampu memainkan piano secara otodidak. Bahkan ia diberikan kesempatan untuk bisa belajar di sekolah musik dengan beasiswa dari pemerintah. Zizi membawakan tiga buah lagu, tentunya menyanyi sembari bermain piano. Lagu pertama yang ia bawakan adalah All I Ask dari Adelle. Lagu pertama sudah sukses membuat peserta seminar, panitia, bahkan pembicara lain yaitu Marshanda berdecak kagum dan terharu. Setelah mengharu biru dengan All I Ask, Zizi membawakan sebuah lagu dari Anggun C. Sasmi berjudul Mimpi. Kemudian lagu Goodbye dari Air Supply menjadi penutup penampilannya. Semua orang yang ada di auditorium bertepuk tangan keras karena penampilannya memang sangat mengagumkan.
Selain Zizi, ada juga Nurul dan Yuda yang juga memiliki keterbatasan penglihatan, mereka menampilkan dua buah lagu, dimana Nurul menyanyi dan Yuda memainkan musiknya. Mereka membawakan dua buah lagu, yaitu Cinta Sejati dari Bunga Citra Lestari dan Kamu yang Pertama dari Geisha. Tepuk tangan penonton menjadi riuh kembali karena penampilan kedua ini juga sangat menginspirasi.
Acara dilanjutkan dengan talkshow. Pembicara dalam talkshow ini adalah Marshanda dan Surya. Seperti yang sudah kita ketahui, Marshanda adalah seorang pemain sinetron, film, dan juga seorang penyanyi yang sekarang ini kerap kita lihat sebagai seorang motivator. Marshanda memang sering memberikan motivasi akhir-akhir ini terkait dengan penyakitnya yaitu Bipolar Disorder dan bagaimana ia menjalani kehidupan dengan “tantangan” tersebut. Sedangkan Surya, yang kita kenal sebagai putra pemain film Ray Sahetapy dan penyanyi Dewi Yull, kini telah beranjak dewasa dan memiliki banyak prestasi yang gemilang meskipun ia seorang tuna rungu.
Kedua pembicara ini banyak bicara tentang mimpi dan bagaimana mereka mencoba meraih mimpi mereka yang kadang dalam perjalanannya ada jatuh bangun yang harus dilalui. Surya misalnya, ia memiliki mimpi untuk bisa merealisasikan teks Indonesia dalam film maupun acara-acara tv di Indonesia karena ini akan sangat berguna bagi tuna rungu. Tanpa adanya teks dalam sebuah film, tuna rungu akan kesulitan memahami film tersebut, maka ia sampai sekarang masih berjuang supaya teks itu diberlakukan juga di film Indonesia. Sedangkan tantangan bagi Marshanda dalam meraih mimpinya adalah ketika ia berada pada low point dan tidak ada support dari lingkungan. Ia mengatakan bahwa jika kita ada dalam kesulitan kita harus jujur pada diri sendiri kalau kita memang sedang ada dalam kesulitan. “It’s okay not to be okay”, katanya. Ada kalanya kita memang terjatuh, namun kita harus yakin bahwa kita bisa melaluinya dan yakin bahwa Tuhan punya tujuan dan rencana sendiri mengapa kita harus merasakan hal tersebut.
Ketika ditanya siapakah orang yang paling berperan bagi kesuksesan mereka, keduanya memiliki jawaban tersendiri. Marshanda yang sekarang ini telah menjadi seorang ibu, mengatakan bahwa anaknya lah yang menjadi penyemangatnya untuk bisa mencapai tujuan-tujuan dalam hidupnya. Sedangkan bagi Surya yang pada tahun 2013 menjadi wakil organisasi tuna rungu Indonesia untuk bertemu Ratu Elizabeth, orang yang paling berperan dalam kesuksesannya adalah ibunya. Ibunya adalah penyanyi hebat, namun sayang kedua anaknya yang tuna rungu tidak bisa mendengarkan suara merdunya. Meskipun demikian, menurut Surya ibunya tetap sabar dan tabah dalam mendidiknya dan juga almarhumah kakaknya sehingga menjadi anak yang punya segudang prestasi. Salah satu prestasi Surya yang tidak terlupakan adalah menjadi juara II dalam perlombaan di bidang IT Internasional yang diselenggarakan di Bangkok. Pada saat itu Surya hanya memiliki persiapan selama satu minggu, namun berkat tekat dan dukungan dari banyak pihak, ia akhirnya menjadi juara. Pencapaian tersebut menjadi ajang pembuktian bahwa tuna rungu juga bisa berprestasi.
Seminar Dream Cheaser ini sungguh menginspirasi, tidak hanya bagi kaum disabilitas, tetapi juga bagi kita sebagai orang yang normal. Seminar ini membuka mata kita bahwa setiap orang diciptakan dengan keunikan dan keunggulannya masing-masing. Orang-orang dengan disabilitas adalah orang-orang yang seharusnya kita terima dan kita dukung. Mereka juga sama seperti kita, mereka punya bakat dan punya hak untuk bisa berkarir seperti orang-orang pada umumnya.
(Sisin)
